STATISTIKA
Dari
yang saya pelajari menngenai ilmu statiska ialah dimana ilmu tersebut
mempelajari untuk mengambil beberapa sample dari semua berita untuk menentukan
kebenaran dari fakta atau berita tersebut. Seperti contohnya I: “Michael
mengatakan 100 mahasiswa/i Fakultas Hukum mempunyai tinggi badan 165 cm dan
berat badan 60 kg”.
Untuk
membuktikan kebenaran dari asumsi Michael tersebut kita harus melakukan
penelitian terhadap mahasiswa/i Fakultas Hukum dengan cara mengambil sample
atau beberapa mahasiswa/i untuk membuktikan asumsi dari Michael dengan cara:
mengukur tinggi badan dan menimbang berat badan mereka. “Ida, mempunyai tinggi
badan : 162cm dan berat badan: 60kg”, “Anggi, mempunyai tinggi badan : 165cm
dan berat badan: 63kg”, “Aska, mempunyai tinggi badan : 163cm dan berat badan :
61kg”.
Lalu
setelah dilakukan pengukuran atau pendataan, dijumlah dan dibagi dengan
banyaknya jumlah mahasiswa/i yang dikatakan Michael, baru kita bisa membenarkan
asumsi dari Michael tersebut bahwa mahasiswa/i Fakultas Hukum mempunyai tinggi
badan 165cm dan Berat Badan 60kg. Contoh
II: “Suatu hari seorang anak kecil disuruh ayahnya membeli sebungkus
korek api dengan pesan agar tidak terkecoh mendapatkan korek api yang jelek.
Tidak lama kemudian anak kecil itu datang kembali dengan wajah yang
berseri-seri, meyerahkan kotak korek api yang kosong dan berkata: korek api ini
benar-benar bagus pak, semua batangnya sudah saya coba dan ternyata menyala”.
Teori
kuadrat terkecil (least squares) simapangan baku dan galat bukuuntuk rata-rata
(the standart error off the man) dikembangkan oleh Karl Friedrich Gauss
(1877-1855).
STATISTIKA DAN CARA BERPIKIR INDUKTIF
Ilmu
secara sederhana dapat didefinisikan
sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah bersifat
factual, dimana konsekuensinya dapat diuji baik dengan jalan mempergunakan
pancaindera, maupun ala-alat yang dapat membantu pancaindera tersebut. Dari
contoh I diatas termasuk dalam pemikiran induktif dimana premis-premisnya
adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulan itu adalah sah maka kesimpulan
itu belum tentu benar. Yang dapat kita katakana adalah bahwa kesimpulan
tersebut mempunyai peluang untuk benar. Dan statistika adalah pengetahuan yang
memungkinkan kita untuk menghitung tingkat peluang itu dengan eksak.
Untunglah
dalam hal ini statistika memberikan sebuah jalan keluar yaitu dengan memberikan
cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati
hanya sebagian dari popluasi yang bersangkutan. Statisktika mampu memberikan
secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut,
yang pada pokoknya didasarkan pada asas yang sangat sederhana, yakni makin
besar contoh yang diambil makin tinggi pula tingkat ketelitian dari kesimpulan
tersebut. Dan sebaliknya makin sedikit contoh yang diambil makin rendah pula
tingkat ketelitian dari kesimpulan tersebut. Karakteristik seperti ini
memugkinkan kita untuk dapat memilih dengan saksama tingkat ketelitian yang dibutuhkan
sesuai dengan hakikat permasalahan yang dihadapi. Terlepas dari semua itu maka
dalam penarikan kesimpulan secara induktif
kekeliruan memang tidak bisa dihindarkan. Dalam kegiatan pengumpulan
data kita terpaksa mendasarkan diri kepada berbagai alat yang hakikatnya juga
tidak terlepas dari cacat yang berupa ketidaktelitian dalam pengamatan.
KARAKTERISTIK BERPIKIR INDUKTIF
Kesimpulan
yang didapat dalam berpikir deduktif merupakan suatu hal yang pasti, dimana
jika kita mempercayai premis-premis yang dipakai sebagai landasan penalarannya,
maka kesimpulan tersebut juga dapat kita
percayai kebenarannya, sebagaimana kita mempercayai premis-premis terdahulu.
Dasar teori statistika adalah peluang, teori peluang merupakan cabang dari
matematika sedangkan statistika sendiri merupakan disiplin tersendiri. Menurut
bidang pengkajiannya statistika dapat kita bedakan sebagai statistika teoritis
dan statistika terapan. Statistika teoritis merupakan pengetahuan yang mengkaji
dasar-dasar teori statistika, dimulai dari teori penarikan contoh, distribusi,
penaksiran dan peluang. Sedangkan statistika terapan merupakan penggunnaan
statistika teoritisyang disesuaikan dengan bidang tempat tempat penerapannya.
Disini diterapkan atau dipraktekan teknik-teknik penarikan kesimpulan sepert
bagaimana cara mengambil sebagian populasi sebagai contoh, bagaimana cara
menghitung rentangan kekeliruan dan tingkat peluang, dan bagaimana menghitung
harga rata-rata, dsb.
Bahwa
penguasaan statistika mutlak diperlukan utnuk dapat berpikir ilmiah dengan sah
dan seringkali dilupakan orang. Berpikir logis secara deduktif sering sekali
dikacaukan dengan berpikir logis secara induktif. Kekacauan logika inilah yang
menyebabkan kurang berkembangnya ilmu dinegara kita. Kita cenderung untuk
berpikir logis secara deduktif dan menerapkan prosedur yang sama untuk
kesimpulan induktif.