Rabu, 21 Januari 2015

STATISTIKA


STATISTIKA
Dari yang saya pelajari menngenai ilmu statiska ialah dimana ilmu tersebut mempelajari untuk mengambil beberapa sample dari semua berita untuk menentukan kebenaran dari fakta atau berita tersebut. Seperti contohnya I: “Michael mengatakan 100 mahasiswa/i Fakultas Hukum mempunyai tinggi badan 165 cm dan berat badan 60 kg”.
Untuk membuktikan kebenaran dari asumsi Michael tersebut kita harus melakukan penelitian terhadap mahasiswa/i Fakultas Hukum dengan cara mengambil sample atau beberapa mahasiswa/i untuk membuktikan asumsi dari Michael dengan cara: mengukur tinggi badan dan menimbang berat badan mereka. “Ida, mempunyai tinggi badan : 162cm dan berat badan: 60kg”, “Anggi, mempunyai tinggi badan : 165cm dan berat badan: 63kg”, “Aska, mempunyai tinggi badan : 163cm dan berat badan : 61kg”.
Lalu setelah dilakukan pengukuran atau pendataan, dijumlah dan dibagi dengan banyaknya jumlah mahasiswa/i yang dikatakan Michael, baru kita bisa membenarkan asumsi dari Michael tersebut bahwa mahasiswa/i Fakultas Hukum mempunyai tinggi badan 165cm dan Berat Badan 60kg. Contoh  II: “Suatu hari seorang anak kecil disuruh ayahnya membeli sebungkus korek api dengan pesan agar tidak terkecoh mendapatkan korek api yang jelek. Tidak lama kemudian anak kecil itu datang kembali dengan wajah yang berseri-seri, meyerahkan kotak korek api yang kosong dan berkata: korek api ini benar-benar bagus pak, semua batangnya sudah saya coba dan ternyata menyala”.
Teori kuadrat terkecil (least squares) simapangan baku dan galat bukuuntuk rata-rata (the standart error off the man) dikembangkan oleh Karl Friedrich Gauss (1877-1855).

STATISTIKA DAN CARA BERPIKIR INDUKTIF
Ilmu secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah bersifat factual, dimana konsekuensinya dapat diuji baik dengan jalan mempergunakan pancaindera, maupun ala-alat yang dapat membantu pancaindera tersebut. Dari contoh I diatas termasuk dalam pemikiran induktif dimana premis-premisnya adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulan itu adalah sah maka kesimpulan itu belum tentu benar. Yang dapat kita katakana adalah bahwa kesimpulan tersebut mempunyai peluang untuk benar. Dan statistika adalah pengetahuan yang memungkinkan kita untuk menghitung tingkat peluang itu dengan eksak.
Untunglah dalam hal ini statistika memberikan sebuah jalan keluar yaitu dengan memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari popluasi yang bersangkutan. Statisktika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yang pada pokoknya didasarkan pada asas yang sangat sederhana, yakni makin besar contoh yang diambil makin tinggi pula tingkat ketelitian dari kesimpulan tersebut. Dan sebaliknya makin sedikit contoh yang diambil makin rendah pula tingkat ketelitian dari kesimpulan tersebut. Karakteristik seperti ini memugkinkan kita untuk dapat memilih dengan saksama tingkat ketelitian yang dibutuhkan sesuai dengan hakikat permasalahan yang dihadapi. Terlepas dari semua itu maka dalam penarikan kesimpulan secara induktif  kekeliruan memang tidak bisa dihindarkan. Dalam kegiatan pengumpulan data kita terpaksa mendasarkan diri kepada berbagai alat yang hakikatnya juga tidak terlepas dari cacat yang berupa ketidaktelitian dalam pengamatan.

KARAKTERISTIK BERPIKIR INDUKTIF
Kesimpulan yang didapat dalam berpikir deduktif merupakan suatu hal yang pasti, dimana jika kita mempercayai premis-premis yang dipakai sebagai landasan penalarannya, maka kesimpulan tersebut juga dapat  kita percayai kebenarannya, sebagaimana kita mempercayai premis-premis terdahulu. Dasar teori statistika adalah peluang, teori peluang merupakan cabang dari matematika sedangkan statistika sendiri merupakan disiplin tersendiri. Menurut bidang pengkajiannya statistika dapat kita bedakan sebagai statistika teoritis dan statistika terapan. Statistika teoritis merupakan pengetahuan yang mengkaji dasar-dasar teori statistika, dimulai dari teori penarikan contoh, distribusi, penaksiran dan peluang. Sedangkan statistika terapan merupakan penggunnaan statistika teoritisyang disesuaikan dengan bidang tempat tempat penerapannya. Disini diterapkan atau dipraktekan teknik-teknik penarikan kesimpulan sepert bagaimana cara mengambil sebagian populasi sebagai contoh, bagaimana cara menghitung rentangan kekeliruan dan tingkat peluang, dan bagaimana menghitung harga rata-rata, dsb.
Bahwa penguasaan statistika mutlak diperlukan utnuk dapat berpikir ilmiah dengan sah dan seringkali dilupakan orang. Berpikir logis secara deduktif sering sekali dikacaukan dengan berpikir logis secara induktif. Kekacauan logika inilah yang menyebabkan kurang berkembangnya ilmu dinegara kita. Kita cenderung untuk berpikir logis secara deduktif dan menerapkan prosedur yang sama untuk kesimpulan induktif.


                                                                                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar